SDGS MENCATAT INDONESIA HINGGA DUNIA – SDGS MENIMBULKAN ANXIETY???

SDGs merupakan upaya terpadu mewujudkan Desa tanpa kemiskinan dan kelaparan, Desa ekonomi tumbuh merata, Desa peduli kesehatan, Desa peduli lingkungan, Desa peduli pendidikan, Desa ramah perempuan, Desa berjejaring, dan Desa tanggap budaya untuk percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk keselamatan manusia dan planet bumi.

Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (the 2030 Agenda for Sustainable Development atau SDGs) adalah kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDGs/TPB diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau “No-one Left Behind”. SDGs terdiri dari 17 Tujuan dan 169 target dalam rangka melanjutkan upaya dan pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir akhir pada tahun 2015 lalu.[1]

17 tujuan tersebut yakni

  1. Tanpa Kemiskinan
  2. Tanpa Kelaparan
  3. Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  4. Pendidikan Kualitas
  5. Kesetaraan Gender
  6. Air Bersih dan Sanitasi Layak
  7. Energi Bersih dan Terjangkau
  8. Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
  9. Industri, Inovasi dan Infrastruktur
  10. Berkurangnya Kesenjangan
  11. Kota dan Pemukinan yang Berkelanjutan
  12. Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab
  13. Penanganan dan Perubahan Iklim
  14. Ekosistem Lautan
  15. Ekosistem Daratan
  16. Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tanggung
  17. Kemitraan untuk Mencapai Tujuan[2]

Enam belas (16) relawan SDGs Desa Panggunguni menjadi penulis tinta dalam catatan dunia. Mereka siap bertarung dalam kancah aplikasi SDGs yang saat ini sedang digarapnya. Di awal, mereka memiliki hambatan dalam penggunaan aplikasi. Bukan peng-entry-an data, tetapi dalam peng-upload-an hasil data. Mulai versi 1.4 sampai 1.6 telah mereka coba. Hasil yang di dapat di lihat atas data yang dikerjakan dengan kalimat sudah terupload  adalah versi 1.8.

Begitu runyam iya. Kala itu selain masa-masa perkenalan dengan berbagai data kependudukan, mereka begitu tercenga ketika harus terhambat dalam upload hasil data. Muncul Anxiety atau kecemasan kala itu. 1.8 menjadi jawaban.

Saat ini sudah ter-input sekitar 55% dari kependudukan yang ada. Deadline  yang terus mengepung mengharuskan para relawan untuk terus fokus dalam penggarapan data tersebut. Dari pagi, larut malam hingga pagi lagi. Jaringan internet yang bertabrakan karena saking banyaknya pengguna aplikasi membuat Anxiety atau kecemasan itu muncul kembali. Sebenarnya tak perlu untuk tekanan psikologis tersebut, sebab faktor penyebabnya hanyalah target yang menggebu. Stress masuk dalam kategori tersebut. (eits jangan terlalu paranoid dengan kata stress. Stress merupakan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan). Sehingga kecematan tingkat ringan itu mendominasi ketika jaringan internet terjadi error system.

Kelola target sesuai kondisi dan pengetahuan akan media data hingga jaringan internet. Seringlah berkomunikasi dengan rekan dan bidang terkait untuk meminimalisir kecemasan. Stratching atau peregangan ringan sering dilakukan untuk meringankan otot, saraf hingga kerja otak. Hal ini berfungsi agar sistem saraf dapat merespon kembali stimulus dan otak dapat kembali bekerja guna menganalisa hasil respon.

 

Selamat bekerja dan sukses. SDGs mencatat Dunia!!! Panggunguni JAYA!!!

admin

 

[1]http://sdgs.bappenas.go.id/di akses pada tanggal 30 April 2021 pukul 10:06 wib

[2]Ibid, http://sdgs.bappenas, …

Bagaimana reaksi anda mengenai artikel ini ?

Tinggalkan Komentar

Komentar anda tidak akan dipublikasikan, jika formulir yang ditandai * tidak diisi.