Di era serba modern saat ini, perkembangan IPTEK menjadi tantangan untuk meregulasi diri setiap kalangan masyarakat, khususnya masyarakat desa Panggunguni. Sehingga tidak banyak yang masih bertempat dan mengembangkan potensi-potensi alam menjadi sebuah kreasi yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Bukan tidak ada tetapi minoritas-lah yang membungkusnya.

Selain potensi alam, potensi dari diri-pun menjadi kunci utama dalam regulasi ini. Kemauan, kesabaran, keuletan dan kekonsistenan harus melekat dalam diri. Seperti halnya kerajinan tangan, yaitu seni kreasi yang di hasilkan oleh tangan, berupa seni rupa dari kayu, kertas, cat bambu dan lain sebagainya yang benilai seni dan indah.

Ibu Nistikharoh adalah kepala rumah tangga perempuan yang menekuni salah satu kerajinan tangan dari bambu. Tidak mudah berdiri di era serba pergeseran ini tanpa adanya niat dan kekonsistenan. Sejak menempuh sekolah dasar pada tahun 1988, beliau mulai belajar dan menekuni seni keajinan bambu ini. Tidak karena tiba-tiba, faktor genetik dan pembiasaan dari keluarga menjadi pendorong utama dari beliau. Orang tua yang memiliki bakat menganyam bambu secara tidak langsung menjadi guru seni baginya. Maka dari situ, bakat seorang ibu dari dua anak ini terasah. Sehingga tidak singkat bagi beliau, yakni selama 31 tahun beliau mampu membuat kerajinan anyam hingga 8 jenis anyaman bahkan lebih, tergantung permintaan pelanggan.

Beliau memilih mengolah bambu menjadi segi guna, dikarenakan kemudahan dalam mendapatkan bahan utama yaitu bambu tidak begitu sulit. Namun tidak sembarangan dalam mengambil bambu dari tempatnya. Ada usia dan waktu selama bambu itu tumbuh, untuk siap diambil (ditebang). Selain itu, tidak sembarang jenis bambu yang digunakan untuk pembuatan kerajinan ini, yakni bambu apus yang menjadi pilihan. Selain itu, bambu rotan antik pun menjadi pilihan untuk dijadikan tali. Sebab berdasarkan tuturnya, keuletan dan kekuatan bambu jenis ini mampu bertahan lama.

Langkah awal dari penebangan bambu hingga pembuatan kerap sekali menjadi kebiasaanya. Tidak menjadikan tenaga pembantu atau orang lain menjadi sandaran beliau. Ketekatan untuk tetap semangat dan dukungan akan kebutuhan dari hasil seninya menjadikannya terus berdiri sampai sekarang.

Kreatifitas yang dimiliki beliau ini membeikan sumbangsih terhadap ekonomi keluarga. Ketika dilihat selain dari sisi ekonomi, ada nilai positif terhadap segi kognitif, sosial dan budaya. Selain untuk keluarganya, masyarakat-pun merasakan manfaat dari hasil kreatifitasnya. Pemesan selain dari tetangga sekitar rumah, masyarakat desa Panggunguni pun juga turut antusias. Bahkan, luar desa, luar pulau bahkan luar negeri tak luput dari ketertarikan akan hasil kreasi tangan ini. Pengiriman hasil kerajinan anyamnya selain tingkat kabupaten/kota juga pernah mengirim ke Kalimantan hingga Hongkong. Memang kualitas diutamakan oleh beliau dalam pembuatan ini. Ketlatenan dan bahan yang dipilihpun patut dipertimbangkan.

“Kebahagiaan tanpa banyak pertimbangan

Menjadikan angan untuk tantangan

Dari segala sisi jadi sumbangan

Merangkul kebiasaan untuk sebuah keagungan”

@Nofi_Ana

Bagaimana reaksi anda mengenai artikel ini ?

Tinggalkan Komentar

Komentar anda tidak akan dipublikasikan, jika formulir yang ditandai * tidak diisi.